Jumat, 10 Februari 2012

ENGKAU TAHU


ini adalah cerita sampai kapanpun
yang dibawa orang menyebrang dan tepekur
karena tak ada darah yang mengalir
lalu terasing dari kisah ini

ibu membawa dan membelai

mengusap dan menyuapi
kapanpun ini, itulah ibu

sadarkah kita akan pembawaan

engkau bisa menangis aku bisa girang
manusia pembawa rincian rumit
dan ada kecenderungan di sana

ibu menangis dan khawatir

memeluk dan merangkul
saat apapun ini, itulah ibu

tidakkah di alam ini ada abnormalitas

pernahkah engkau menyaksikan kegelapan
keterbelakangan dan ketidak sadaran
itu adalah gejala rantai tak putus

ibu membunuh dan membuang

membiarkan dan mengacuhkan
di suatu saat yang memang ada, itulah ibu

engkau tahu ibu tahu engkau ada

dan kau ukir apa di batu perjalananmu
dan kau rasa apa di terpaan semak pengalaman
tidakkah engkau bertanya-tanya

tentang kecenderungan,

tentang keberuntungan,
tentang kesialan,
dan tentang kedewasaan

engkau yang tahu, tahu mengenai sebab dan akibat

di sesuatu yang dalam, ada ciptaan yang alami
di bahagia atau dera matamu
di bahak atau isak bisikmu

kau tahu, ada yang tercipta mencinta

mengasuh dan mengasihi tak tertandingi
dan hingga kapanpun, itulah ibu

engkau di dalam kesendirian tahu

di nyala atau padamnya jiwamu

HUJAN


aku suka hujan..
karena di dalam riuhnya, kami semua satu
berkilometer manusia, teredam suara gemericik
serasa alam pun lagi-lagi menyapa
meskipun lagi-lagi setelahnya kami tak peduli

hujan bagiku hangat

mungkin karena kehadirannya,
kebersamaan menjadi lebih berharga
kami terkukup dalam selimut menikmatinya
kami menjadi satu lagi

aku rindu hujan

suaranya menentramkan,
membasuh debu bumi
mendenting genting
menggema ke ruang keluarga
berkilometer manusia...

Kamis, 09 Februari 2012

Cinta? Seperti inikah?

 
Aku benci tentang cinta
kasih sayang memuakan
benci dengan bualan

Ku bagai binatang jalang yang terombang ambing di kehidupan malam
peluhmu tangismu perhatianmu hanya untuk dirinya
kau membuatku merasa mati kutu
terpentok gawang yang tak pernah kebobolan

ku striker yang patah arang
tak ada lagi satu ruang untukku menembus batas jaringmu
kusudah penuh perjuangan
latihan ditengah malam
menatap bulan terang
merenung tentangmu

kau bagai kura-kura
disaat kau membutuhkan makanan kau mengeluarkan kepalamu dari cangkang
dan disaat musuh datang menerjang
kau menyelinap masuk dengan damai diperistirahatan


Apa daya dengan cinta pertama?

Bagai laut yg membentang luas lalu menunggu untuk jadi kerontang
tak terpikirkan!
begitu terngiang dipalung laut
hingga sulit untuk mendaki kepermukaan tanah
Abadi kau disana!


Menulis dalam perasaan gemulai
melukis dengan jiwa tentram
menghitung sampai terpasang
menyanyi suasana nestapa
menari di tepi haribaan panggung

bercorak kegiatan kau lakukan
tanpa mengindahkan ku disisimu
hanya keluh kesah yang kau ceritakan

ku ada bagimu
namun kau angin-anginan bagiku

Kau membaca itu harapannya
kau merasa ku kan percaya
kau tersentuh ku telah terpaut
kau berubah itu tujuannya

Biarkan ku bagai ikan kecil yang menunggu untuk disantap hiu
dan kau bagai umpan.
lepaskan dirimu dari kail pancingan
maka kau akan selalu kukejar!

Galau Sang Pecundang

 
Ku tulis nalar hati yang coba membaca isyarat dari sanubari

Ku biarkan jariku menari merangkai kata huruf demi huruf


Mengarungi pekatnya malam ini dengan rasa yang berbeda


Biasa tapi luar biasa juga sangat berbeda itu yang ku rasa




Tak dapat ku tulis tak dapat ku ungkapkan sesak dan semakin sesak


Sebuah rasa yang mungkin nanti kan tumbuh perlahan seiring waktu


Sesak yang terasa mungkin kan berubah memecah tempurung otak kepalaku


Bagai kanker otak akut yang siap menmbus jaringan syaraf


Karna bayangmu tak bisa ku tepis dari ingatanku




Bantu aku mencintaimu atau bantu aku melupakanmu


Beri aku isyarat yang buatku mengerti apa arti sikapmu


Karna ku tak tahu tentang arti dari semua ini


Galau dan bimbang adanya saat ini




Sakit dan kepedihan yang ku nikmati selama ini


Membuatku lupa tentang cinta


Tak bisa bedakan mana biasa mana luar biasa